| (Kompas.com/Seraphinus Sandi) |
NUSA TENGGARA TIMUR – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Bencana tersebut menimbulkan dampak terhadap masyarakat di sejumlah wilayah dan memicu kebutuhan bantuan kemanusiaan.
Gempa yang berpusat di wilayah laut tersebut juga sempat menimbulkan potensi tsunami. Kondisi itu membuat masyarakat di daerah terdampak harus menghadapi situasi darurat, termasuk kerusakan pada sejumlah rumah dan fasilitas umum.
Di tengah kondisi tersebut, berbagai pihak mulai bergerak memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.
Bantuan yang dibutuhkan antara lain makanan siap saji, kebutuhan pokok, perlengkapan bayi, obat-obatan, terpal, tikar, hingga kebutuhan sanitasi. Sejumlah organisasi kemanusiaan juga telah mengerahkan tim untuk melakukan asesmen dan membantu penanganan di lapangan.
Bantuan Terus Disalurkan
Upaya penanganan tidak hanya dilakukan oleh lembaga kemanusiaan di wilayah NTT. Dukungan juga datang dari berbagai daerah di Indonesia.
Di Yogyakarta, Pemerintah Daerah DIY bersama BAZNAS DIY turut menyalurkan bantuan bagi masyarakat dan mahasiswa asal NTT yang terdampak gempa.
Bantuan tersebut diserahkan di Kompleks Kantor Gubernur DIY pada Rabu (19/8/2026). Nilainya antara lain Rp1 miliar yang ditujukan kepada Pemerintah Daerah NTT serta obat-obatan senilai Rp38 juta.
Selain itu, terdapat bantuan keuangan sebesar Rp90 juta yang dihimpun dari sejumlah lembaga dan institusi di DIY. Bantuan berupa bahan pokok seperti beras dan telur juga diberikan kepada mahasiswa asal NTT yang terdampak.
Pemerintah DIY juga menyiapkan langkah penggalangan bantuan dari aparatur sipil negara (ASN) yang nantinya akan dikoordinasikan bersama BAZNAS DIY.
Kebutuhan Dasar Menjadi Prioritas
Di wilayah terdampak, kebutuhan masyarakat masih menjadi perhatian utama selama masa tanggap darurat.
Sejumlah lembaga kemanusiaan memprioritaskan distribusi makanan, logistik, kebutuhan medis, perlengkapan pengungsian, serta fasilitas sanitasi bagi warga yang terdampak.
Dompet Dhuafa, misalnya, mengerahkan tim untuk melakukan asesmen kondisi lapangan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan darurat masyarakat di NTT.
Sementara itu, BAZNAS juga terus menyalurkan bantuan kepada para penyintas. Pada 24 Agustus 2026, BAZNAS RI menyalurkan 500 paket logistik keluarga di Posko Golo Conggo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Paket tersebut berisi sejumlah kebutuhan pangan sehari-hari.
Selain bantuan pangan, BAZNAS juga mengoperasikan dapur umum, memberikan layanan kesehatan, serta menyediakan fasilitas ibadah sementara bagi masyarakat yang bangunannya terdampak gempa.
Kepedulian Dibutuhkan untuk Pemulihan
Penanganan pascabencana tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Masyarakat terdampak juga membutuhkan dukungan untuk kembali menjalani kehidupan setelah mengalami kerusakan rumah maupun fasilitas umum.
Karena itu, dukungan dari pemerintah, lembaga kemanusiaan, organisasi sosial, komunitas, dan masyarakat luas menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.
Bantuan yang diberikan tidak harus selalu dalam jumlah besar. Dukungan yang disalurkan melalui lembaga resmi dan terpercaya dapat membantu memastikan kebutuhan masyarakat terdampak terpenuhi secara lebih terarah.
Gempa NTT menjadi pengingat bahwa bencana dapat terjadi sewaktu-waktu dan berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
Di tengah kondisi sulit yang dihadapi para penyintas, kepedulian dan gotong royong dari berbagai pihak menjadi kekuatan penting untuk membantu mereka bangkit dan menata kembali kehidupan setelah bencana.